Membangun Kepemimpinan dari Kota Padang
Fadly Amran, Wali Kota Padang, hadir sebagai pembicara utama di Sekolah Legislatif Universitas Andalas (Unand) 2025. Kehadirannya langsung memicu antusiasme para mahasiswa legislatif yang ingin mengasah kemampuan kepemimpinan serta pemahaman politik lokal. Ia membuka sesi dengan menceritakan latar belakangnya sebagai pejabat publik yang pernah menghadapi berbagai tantangan pembangunan kota.
Dalam pembicaraan itu, Fadly Amran menekankan pentingnya kepemimpinan visioner. Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya menjalankan tugas administratif, tetapi harus memiliki visi jangka panjang untuk pertumbuhan masyarakat. Bagi Amran, visi tersebut meliputi kesejahteraan warga dan peningkatan kualitas infrastruktur.
Ia berbagi kisah bagaimana ia menanggapi aspirasi warga Padang dengan telinga terbuka. Ketika warga menyampaikan kebutuhan mereka, Amran aktif mendengarkan, mengevaluasi, dan merespons dengan kebijakan konkret. Sikap inilah yang menurutnya menjadi fondasi utama kepemimpinan yang efektif.
Amran juga menggarisbawahi pentingnya integritas. Ia menyatakan bahwa kepemimpinan tanpa integritas hanya akan menghasilkan kepercayaan yang rapuh. Selama menjabat, ia berusaha menjunjung transparansi dalam pengambilan keputusan dan penggunaan anggaran kota.
Tak hanya soal kebijakan makro, Fadly Amran juga bicara soal manajemen konflik. Ia menyebutkan bahwa dalam pemerintahan kota, konflik pasti muncul — baik antar lembaga pemerintah maupun dengan masyarakat. Namun, pemimpin sejati harus mampu meredam ketegangan melalui dialog dan kompromi.
Dalam sesi tersebut, ia menekankan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses. Sebagai pemimpin, ia pernah membuat keputusan yang kurang tepat, tetapi justru dari kegagalan itu ia belajar dan tumbuh. Ia mengajak para peserta untuk berani mengambil risiko yang diperhitungkan dan belajar dari setiap kesalahan.

Interaksi dan Pembelajaran di Sekolah Legislatif
Di Sekolah Legislatif Unand 2025, interaksi antara Fadly Amran dan mahasiswa berjalan hangat. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan kritis tentang tantangan pemerintahan kota dan bagaimana strategi kebijakan dirancang. Amran merespon setiap pertanyaan dengan mudah dipahami dan mengundang refleksi mendalam.
Ia juga membagikan pengalaman praktis dalam merumuskan regulasi lokal. Amran menjelaskan bagaimana timnya bekerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk warga, akademisi, dan pengusaha, untuk menyusun kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan kolaboratif ini, menurutnya, sangat krusial untuk legitimasi dan efektivitas regulasi.
Mahasiswa legislatif mendapat kesempatan mengikuti studi kasus langsung dari kota Padang. Fadly Amran memberikan contoh proyek pembangunan jalan, sanitasi, dan ruang publik. Ia menguraikan proses perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaannya, supaya peserta paham realitas birokrasi dan tantangan lapangan.
Selain materi kebijakan, Amran juga berbagi kiat memimpin tim pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa pemimpin harus peka terhadap potensi setiap anggota, sekaligus mampu menetapkan target yang realistis namun ambisius. Kepemimpinan, katanya, adalah seni memotivasi dan memberdayakan tim untuk bersama-sama mencapai visi.
Unand menyediakan sesi lokakarya di mana peserta praktek menyusun rancangan peraturan atau kebijakan sederhana. Di sinilah pengalaman Fadly Amran sangat berharga: ia memberikan masukan, melakukan simulasi rapat legislatif, dan mengajarkan etika bernegosiasi.
Para mahasiswa tampak antusias sekaligus terinspirasi. Banyak dari mereka yang menyatakan bahwa pengalaman mendengarkan Amran secara langsung mengubah pandangan mereka tentang peran legislatif dan pemerintahan. Mereka merasa lebih siap untuk berkontribusi secara strategis di karier publik mereka kelak.

Baca Juga : Padang Jadi Magnet Kreativitas ASEAN, Ratusan Pemuda Berkumpul Rumuskan Gagasan Masa Depan di AYCM 2025
Inspirasi Kepada Generasi Muda & Masa Depan Kota
Dalam sesi penutup, Fadly Amran menyerukan semangat kolaborasi antara generasi muda dan pemerintahan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa hanya diurus oleh pejabat publik — generasi muda harus dilibatkan aktif dalam merancang masa depan kota mereka. Menurut Amran, mahasiswa legislatif memiliki peran strategis sebagai jembatan aspirasi masyarakat ke ranah kebijakan.
Amran juga menekankan bahwa kepemimpinan muda harus dibangun dari tanggung jawab sosial. Bagi dia, pemimpin masa depan tidak hanya mengurus urusan administrasi, tetapi juga peduli pada isu-isu sosial seperti kemiskinan, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan. Ia mencontohkan program-program Kota Padang yang secara khusus menyasar kesejahteraan warga dan pengembangan komunitas lokal.
Ketika berbicara tentang inovasi, Fadly Amran menyatakan bahwa birokrasi tidak boleh menjadi penghambat kreativitas. Ia mendorong mahasiswa legislatif untuk berpikir kreatif dan proaktif dalam menghadapi masalah publik. Salah satu pesannya adalah agar mereka berani mengusulkan ide-ide segar, namun tetap mempertimbangkan aspek regulasi dan anggaran.
Amran juga mengajak generasi muda untuk memahami nilai kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. Ia percaya bahwa kolaborasi dengan komunitas lokal, LSM, dan sektor swasta dapat mempercepat perubahan sosial. Dengan kemitraan yang efektif, kebijakan dapat dirumuskan lebih realistis dan berdampak.
Tidak kalah penting, Wali Kota Padang itu mengingatkan mahasiswa legislatif agar senantiasa menjaga etika dalam politik. Ia menegaskan bahwa kekuasaan sejati hanya datang ketika pemimpin juga memiliki akhlak dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Tanpa etika, penggunaan jabatan bisa disalahgunakan.
Fadly Amran pun berbagi harapan: bahwa dari Sekolah Legislatif Unand 2025 akan lahir pemimpin-pemimpin muda yang tangguh, jujur, dan visioner. Ia melihat potensi besar di kalangan mahasiswa legislatif untuk menjadi pembuat kebijakan masa depan, yang mampu membawa perubahan positif di daerah masing-masing.
Sebagai penutup, Amran menyatakan rasa optimisme terhadap masa depan generasi muda Indonesia. Ia menegaskan bahwa ketika pemimpin muda dibekali wawasan, pengalaman, dan integritas, maka mereka akan menjadi tulang punggung pembangunan bangsa. Peserta Sekolah Legislatif Unand diharapkan menjadi bagian dari gerakan perubahan ini.






