Padang Siaga Tsunami: 242 Ribu Jiwa dalam Bayang-Bayang Megathrust
i News Padang– Bayangan gelombang raksasa bukan sekadar narasi menakutkan di Kota Padang; ia adalah sebuah persamaan matematis risiko yang dingin dan nyata. Kajian Risiko Bencana 2023 membeberkan data yang menggetarkan: 242.750 jiwa penduduk Padang tercatat tinggal di wilayah berisiko tinggi tsunami. Angka ini bukanlah statistik abstrak, melainkan representasi dari manusia yang hidup, bekerja, dan bersenda gurau di atas tanah yang suatu saat nanti bisa bergetar hebat, diikuti oleh deru air laut yang menyapu segalanya.
Risiko ini menyebar di 8 kecamatan dan 55 kelurahan, menjadikan hampir seluruh kawasan pesisir Padang sebagai zona bahaya. Yang lebih memprihatinkan, dari ratusan ribu jiwa tersebut, 77.014 jiwa termasuk dalam kelompok rentan—lansia, anak-anak, ibu hamil—dan 637 jiwa lainnya adalah penyandang disabilitas. Mereka adalah yang paling sulit menyelamatkan diri ketika detik-detik kritis tiba.
Data ini adalah pengingat keras dan tak terbantahkan. Kota Padang tidak hanya “rawan” bencana. Posisinya yang persis berhadapan dengan patahan megathrust Mentawai menempatkannya pada daftar salah satu kota dengan risiko tsunami tertinggi di dunia. Ancaman itu nyata, selalu ada, dan menuntut kesiapan yang jauh melampaui sekadar wacana.
Kesiapsiagaan: Bukan Pilihan, Melainkan Kewajiban Kolektif
Menghadapi kenyataan pahit ini, Pemerintah Kota Padang, di bawah kepemimpinan Wali Kota Fadly Amran, kembali meneguhkan komitmennya. Dalam pembukaan Workshop Drill Menghadapi Gempa Bumi Berpotensi Tsunami di Gedung Youth Centre, Fadly menyampaikan pesan yang tegas dan gamblang.
“Ancaman tsunami di Padang sangat serius. Pertanyaannya, seberapa siap kita jika bencana itu benar-benar terjadi? Jawabannya adalah latihan dan simulasi,” ujarnya.
Baca Juga: Kota Padang Gelar Workshop Akbar, Siapkan 921 Peserta Hadapi Ancaman Tsunami
Pernyataan ini bukanlah retorika kosong. Ia didasari oleh fakta mengkhawatirkan bahwa lebih dari 60 persen dari total penduduk Kota Padang beraktivitas setiap harinya di kawasan pesisir—area yang diprediksi akan terdampak langsung jika tsunami terjadi. Pusat perekonomian, perkantoran, sekolah, dan permukiman padat penduduk terkonsentrasi di zona merah ini.
“Karena itu, kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kewajiban kolektif seluruh elemen masyarakat,” tegas Fadly. Seruan ini menegaskan bahwa tanggung jawab menghadapi bencana tidak boleh hanya dibebankan pada pemerintah. Setiap warga, dari tingkat RT hingga pelaku usaha, harus terlibat aktif.
Menuju Simulasi Terbesar: Gladi Bersih Menyelamatkan Nyawa
Workshop yang digelar bukanlah sekadar acara seremonial. Ia adalah bagian vital dari persiapan menuju sebuah momen bersejarah: Simulasi Tsunami (Tsunami Drill) pada 5 November 2025.
Simulasi ini digadang-gadang akan menjadi latihan kebencanaan terbesar di Sumatera Barat, dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya. Bayangkan, sekitar 200.000 warga dari 55 kelurahan di Kota Padang akan dilibatkan dalam sebuah gladi bersih penyelamatan diri secara massal.
“Insya Allah, pada 5 November nanti kita akan melaksanakan tsunami drill terbesar yang pernah dilakukan. Mohon dukungan semua pihak agar pelaksanaannya berjalan aman, tertib, dan tanpa kecelakaan,” tambah Wali Kota Fadly Amran.






